Seminar Konseling Pernikahan

Attention: open in a new window. PDFPrintE-mail

Pada tanggal 6 Agustus 2009 pukul 16.30, diadakan Seminar Konseling Pernikahan dengan pembicara Pdt.Sukirno Tarjadi.

 

 

SEMINAR KONSELING PERNIKAHAN.

 

BASIC COUNSELLING SKILLS.

Apakah konseling itu?

Konseling adalah sarana untuk mengadakan perubahan pada diri dan keadaan konseli dalam menghadapi masalah, yang dilakukan antara konselor dan konseli dalam konteks suatu hubungan khusus.

 

Mengenai Pembicara (Pdt.Sukirno Tarjadi):

Pdt.Sukirno Tarjadi adalah Hamba Tuhan, konselor profesionan yang merintis "Satir" di Indonesia.

Tentang Satir:

Sejarah perkembangan Model 'Satir' di Indonesia

Sumber: www.keluarga.info

Pada tahun 2000, dua orang Indonesia mengikuti program pelatihan Model Satir di Singapura. Mereka adalah Sukirno Tarjadi dan Lukas Tahir. Pelatihan ini diadakan oleh Satir Institute of the Pacific (Vancouver) dan Choice Makers Consultancy (Singapore). Trainernya adalah Dr. John Banmen, dengan supervisor Warren Tan M.S.W. Pelatihan ini lamanya 120 jam dan diadakan dalam kurun waktu 1 tahun. Sebelumnya ini, diyakini ada orang-orang Indonesia yang sudah pernah mempelajari metode ini, sekalipun mungkin tidak terlalu mendalam (hanya bersifat akademis).

Sukirno Tarjadi kemudian mengikuti pelatihan lanjutan untuk mendapat post-graduate diploma dalam Model Satir, dengan tempat, lembaga dan trainer yang sama. Sukirno kemudian menganjurkan bapak Eddy Sutanto untuk mengikuti pelatihan ini di Malaysia, dengan trainer Warren Tan. Pak Eddy pergi disertai dengan dua orang lain, bapak Hendro Mangisengi dan istrinya, ibu Widya.

Seusai training 1 tahun di Malaysia tersebut, ke empat orang ini (Sukirno, Eddy, Hendro dan Widya) bekerja sama mewujudkan pelatihan Model Satir di Jakarta, dengan trainer Warren Tan dan supervisor (sekaligus penterjemah) Sukirno Tarjadi. Program awal ini dilakukan selama 2 angkatan, dengan jumlah peserta total 48 orang. Demikianlah Model Satir mulai dikenal di Indonesia.

Tahap berikut dari perkembangan Model Satir di Indonesia dimulai dengan training untuk para konselor narkoba,  melalui kerja sama dengan Badan Narkotika Propinsi DKI Jakarta, dalam hal ini Kepala Bagian Treatment dan Rehabilitasi, Dr. Iskandar Hukom M.A. Trainernya sekarang adalah Sukirno Tarjadi. Warren Tan membantu sebagai advisor dan training supervisor.

Sukirno kemudian ke Vancouver untuk mendapat Training of Trainers pada th 2006 dan 2007. Hasil pelatihan tersebut adalah pengakuan atas training yang diadakan oleh Sukirno, di mana Satir Institute of the Pacific mendukung semua training yang diadakan di Indonesia, dan ikut menerbitkan sertifikat bagi peserta training.

Model Satir sekarang diadakan secara berkala di berbagai tempat dan lembaga.

 

Apakah Model 'Satir' itu?

Latar belakang

 

 

 

 

 

 

 

from:www.avanta.net

Model Satir mengambil nama Virginia Satir (1916-1988), seorang konselor/psikoterapis dari Amerika Serikat. Namanya dipakai untuk suatu metode yang ditemukannya untuk mengkonseling keluarga atau pribadi yang menghadapi persoalan dalam kehidupan mereka. Virginia Satir adalah salah satu pionir utama dalam bidang ilmu terapi keluarga. Buku karangannya, “Conjoint Family Therapy”, menjadi buku pegangan di sekolah-sekolah yang mengajarkan terapi keluarga.

Satir memulai karirnya sebagai seorang guru dan kepala sekolah. Disini dia mulai menemukan beberapa tanda tentang dinamika hubungan antar manusia dalam satu sistem keluarga, yang akan berpengaruh kepada hubungan seseorang dengan sistem di luar keluarganya.

Satir menemukan seorang anak yang nilai rapornya memburuk. Setelah sia-sia mengupayakan untuk memperbaiki nilai anak tersebut dengan cara-cara konvensional, Satir memutuskan untuk mengunjungi anak tersebut di rumah. Di situ dia menemukan bahwa keluarga tersebut mempunyai banyak masalah.

Menurut perkiraan Satir turunnya nilai anak tersebut dipengaruhi oleh masalah di rumahnya. Apa yang terjadi di rumah seseorang mempengaruhi unjuk kerja/performance orang tersebut di sekolah, di kantor, di tempat kerja dll. Hal ini membawa Satir untuk sekolah lagi dan mengambil jurusan konseling. Satir adalah direktur pertama di Mental Research Institute (MRI) di Palo Alto, California. Tahun 1951 Satir mulai melakukan terapi keluarga. Teknik yang dipakainya menjadi pembicaraan, yang kemudian melahirkan satu aliran/model terapi yang memakai namanya. Dia dikenal dengan pendekatannya dan kehangatannya terhadap keluarga-keluarga yang menjadi kliennya.

 

 

Metode/Teknik

 

Model Satir adalah transformational therapy. Dia mengupayakan terjadinya transformasi/perubahan dalam hidup seseorang. Perubahan ini adalah perubahan yang muncul dari dalam seseorang, sehingga menjadi lebih mendasar dan bertahan dibandingkan dengan perubahan yang datang dari luar.

Virginia Satir percaya perlunya memberdayakan klien untuk memecahkan masalah mereka sendiri. Salah satu keyakinanan penyembuhannya yang utama adalah bahwa yang menjadi masalah bukan masalahnya, yang menjadi masalah adalah cara mengatasi masalah. Satir percaya, saat seseorang meminta pertolongan terhadap problem yang dihadapinya, sebenarnya yang perlu ditolong adalah ketidakmampuan mereka menangani masalah, bukan masalah itu sendiri. Menurutnya, setiap orang memiliki sumber kekuatan dari dalam dirinya sendiri yang dapat dipakai para terapis untuk menolongnya menyelesaikan masalah. Jadi fokus dari terapi itu sendiri tidak pada masalah yang dihadapi, tapi lebih terhadap orangnya.

Karena upaya untuk mengatasi masalah adalah sebuah proses internal (dalam diri seseorang, bukan diluar), maka Satir berpendapat bahwa klien sebenarnya dapat ikut berperan dan bertanggung jawab pada proses internal yang sedang mereka hadapi itu, daripada berusaha untuk mengontrol orang atau kejadian-kejadian yang berlangsung di sekitarnya yang sebenarnya lebih sukar untuk dikontrol. Bila orang tersebut mampu ikut serta dalam internal proses tersebut maka Satir percaya bahwa perubahan adalah hal yang mungkin, walau perubahan eksternal sifatnya sangat terbatas, perubahan internal adalah mungkin dilakukan. Jadi terapi Model Satir selalu membawa klien menuju kepada tujuan/sasaran yang arahnya positif.

Lebih jauh Satir berpendapat bahwa kita memiliki banyak pilihan, khususnya menyangkut bagaimana menanggapi stres dan bukannya bereaksi pada situasi di sekitar kita.  Tujuan utama dari terapi Model Satir ini adalah bagaimana membantu seseorang untuk lebih bertanggung jawab dan  cakap mengambil pilihan-pilihan yang baik. Sementara kebanyakan model konseling dan terapi lebih memfokuskan pada pencarian solusi permasalahan atau mengubah tingkah laku yang dianggap buruk, maka Model Satir lebih memfokuskan pada perubahan-perubahan tranformasional. Caranya adalah dengan mengubah seseorang dengan memproses perasaannya, persepsinya, pengharapannya dan dambaannya, selain tingkah lakunya, yang merupakan salah satu saja dari komponen-komponen “dunia internal” orang itu.

Alat penilaian dan intervensi yang penting dari Model Satir adalah Metafora Gunung Es yang mengilustrasikan bermacam-macam komponen dalam “dunia internal” seseorang. Model ini tidak memfokuskan pada masalah tapi lebih pada pengaruh atau akibat dari suatu masalah (biasanya dalam bentuk cerita, insiden atau tingkah laku klien sebagai masalah mereka yang terlihat). Untuk melihat bagaimana efek dan pengaruh sebuah kejadian kepada seseorang dan bagaimana ia berusaha mengatasinya, seorang terapis akan memeriksa “gunung es” kliennya untuk mengetahui bagaimana kejadian itu mempengaruhi tingkah lakunya, perasaannya, persepsinya, harapannya, hasratnya dan dirinya sendiri. Klien tersebut kemudian dibantu untuk mengubah hal-hal penting pada dirinya untuk menangani “gunung es” sehingga ia dapat lebih pulih, lebih bertanggung jawab pada dirinya sendiri, lebih harmonis  dan menjadikannya sebagai seorang yang mampu memilih pilihan-pilihan hidupnya.

 

Untuk siapakah Model Satir

 

Sekalipun di awal Model Satir dikembangkan untuk masalah keluarga, tetapi dalam perkembangannya Model Satir menjadi suatu ilmu yang bisa dipakai oleh siapa saja, dari pelajar, ibu rumah tangga sampai eksekutif puncak. Dia bisa dipakai di sekolah, rumah tangga, rumah sakit, bisnis sampai ke pemerintahan.

n Model Satir berguna untuk pribadi seseorang dalam memahami dirinya sendiri dan menangani konflik dalam kehidupan pribadinya. Dari berbagai kesaksian yang muncul, terjadi transformasi dalam kehidupan orang-orang yang mempraktekkan Model Satir.

n Model ini juga membantu kita memahami orang lain. Semakin kita memahami orang lain, semakin baik hubungan kita dengan orang lain di sekitar kita, baik dengan anggota keluarga maupun orang-orang di kantor.

n Model ini menolong kita menolong orang lain yang sedang menghadapi masalah. Apabila anda seseorang yang mempunyai dorongan untuk menolong orang lain, dengan model ini anda akan mendapatkan suatu ‘senjata’ yang efektif.

 

Sejauh mana pemakaian Model Satir

 

n Model Satir diajarkan kepada lebih dari 300 rohaniwan di Korea Selatan

n Model Satir diajarkan di lembaga konseling dan gereja-gereja di Jakarta dan Yogya. Total mereka yang sudah dilatih lebih dari 300 orang

n Model Satir dipakai di rumah sakit jiwa River View di Vancouver, Canada

n Model Satir dipakai sebagai model penyembuhan di satu panti rehab yang disubsidi pemerintah di Vancouver, Canada

n Konselor/pekerja sosial di Singapura diharuskan belajar Model Satir oleh pemerintah

n Model Satir diajarkan kepada anggota persatuan psikiater kerajaan Thailand

n Untuk wilayah Asia Pasifik, Model Satir ada di Taiwan, Korea Selatan, China, Hong Kong, Thailand, Malaysia, Singapura dan Indonesia dan negara-negara lain.

Untuk mendalami hal ini lebih jauh, saya mengusulkan buku berikut ini untuk dibaca:

The Family Therapist: What Pastors and Counselors Are Learning From Family Therapists oleh J. C. Wynn terbitan 1987 Fleming H. Revell Company. Kutipan: “We clergy have no choice about performing family counseling in our ministry. Our only choice is whether we shall do so intelligently or carelessly. There is much for us to learn from professionals in the field of family therapy. Many of their methods and concepts can be adopted for our vocation.” “Kita para rohaniwan tidak mempunyai pilihan lain dalam melakukan konseling keluarga dalam pelayanan kita. Satu-satunya pilihan kita adalah apakah kita akan melakukannya dengan cerdas atau ceroboh. Ada banyak yang bisa kita pelajari dari para profesional di bidan terapi keluarga. Banyak dari metode dan konsep mereka bisa diadopsi untuk panggilan kita.”

 

 

 

 

 

Training Terapis Keluarga 144 jam (Sertifikasi Internasional)

Program Pelatihan 'Satir' Transformational Systemic Therapy (Terapi Sistemik Transformasional 'Satir')

Program ini adalah program sertifikasi internasional. The Satir Institute of the Pacific (Vancouver) akan menerbitkan sertifikat untuk peserta yang lulus dalam pelatihan ini. Lulusan juga memenuhi syarat untuk menjadi anggota professional dari lembaga ini.

Pelatihan ini mempunyai beberapa manfaat, baik bagi pribadi peserta dan lingkungannya (orang orang disekitarnya, baik di rumah maupun di kantor), serta akan menolong peserta menolong orang lain yang sedang menghadapi berbagai masalah dalam kehidupan.

Peserta akan dibawa mengenal pribadinya lewat metafora gunung es, serta melihat bagaimana dia menghadapi masalah dalam kehidupan. Peserta juga dibawa melihat kepada kehidupannya dalam keluarga asal, untuk menemukan kekuatan-kekuatan serta membereskan hal hal yang belum dibereskan dalam kehidupannya.

Lewat pengalamannya dengan model ini selama pelatihan, peserta dibimbing untuk menolong orang lain yang bermasalah dalam kehidupan mereka.

Berikut ini adalah bahan-bahan yang diajarkan dalam pelatihan ini:

 

Model Satir: suatu pendekatan sistemik

t Overview program

t Prinsip dasar dan sasaran

t Konsep terapi singkat

Metafora Gunung Es pribadi

t Pengenalan Gunung Es sebagai alat assessment dan intervention

t Pemahaman lapis-lapis dalam Gunung Es

Coping Stances dan Sculpt

t Demonstrasi dan praktek stances.

t Sculpting anggota keluarga.

t Eksternalisasi proses coping internal.

t Peta Keluarga Asal.

t Membaca peta keluarga dan sculpt peta.

t Memunculkan sumber-sumber dan pola coping.

Wawancara awal: menyiapkan perubahan

t Melakukan kontak.

t Menilai masalah yang diajukan.

t Memfokuskan masalah menjadi sasaran positif.

t Mendapatkan komitmen untuk berubah.

t Mendiagnosa gunung es.

t Demonstrasi wawancara awal.

t Perubahan mendalam dalam terapi singkat.

Membereskan ‘unfinished business’ dari masa lalu: Peraturan dan Pola Keluarga

t Peranan terapis.

t Mengubah peraturan dengan memakai gunung es.

t Memunculkan proses individu dan keluarga.

t Memakai pertanyaan proses untuk diagnosa .

t Demonstrasi pertanyaan proses.

t Memakai stances untuk menilai proses internal.

Membereskan ‘unfinished business’ dari masa lalu: melakukan perubahan

t ‘Bahan bahan dasar dari suatu interaksi’.

t Mengubahkan 3 jenis pengharapan.

t Reframing’ persepsi.

t Mengakui dan mengubah perasaan, terutama kemarahan, luka dan ketakutan.

t Mengubah dampak, bukan peristiwanya.

t Memberdayakan korban, bukan peristiwanya.

Sculpting hubungan keluarga.

t Praktek: sculpting triad dan peta keluarga.

t Melakukan terapi eksperiensial.

t Presentasi peta keluarga untuk diagnosa dan formulasi treatment plan.

t Memakai peta keluarga dalam terapi singkat.

Praktek Terapi Keluarga

t Demonstrasi terapi keluarga.

t Praktek terapi keluarga dengan individu memakai metafora pertanyaan proses. Praktek dengan keluarga simulasi.

t Fokus pada gejala tertentu secara sistemik: kemarahan, depresi dan bunuh diri.

Metode Pelatihan

t Ceramah

t Diskusi kelompok dalam trio dan kelompok besar

t Presentasi kasus dan supervisi

Peserta akan mendapat kesempatan untuk mempresentasikan suatu kasus, dikaji melalui demonstrasi dan diskusi, dan menerima masukan dari kelompok. Praktek pengembangan skill akan termasuk dalam proses ini.
Sisa program akan dikembangkan sesuai dengan tingkat pembelajaran dan kebutuhan dari peserta. Selain tugas triad, akan ada supervisi
oleh sesama peserta selama masa belajar.

t Analisa kasus video – menonton dan menganalisa video kasus kasus konseling.

t Pengembangan skill – demonstrasi dan praktek konseling didepan kelas dan praktek konseling dalam kelompok trio.

Tugas akhir

Peserta pelatihan diharuskan membuat suatu paper yang menceritakan tentang keluarga asalnya serta dampak-dampak dari keluarga asal tersebut terhadap dirinya.